Nov 13, 2010

Zina, Dosanya, Hukumannya Di Dunia Dan Adzabnya di Akhirat

Oleh
Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat

Zina adalah dosa yang sangat besar dan sangat keji serta seburuk-buruk jalan yang ditempuh oleh seseorang berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Dan janganlah kamu mendekati zina, karena sesungguhnya zina itu adalah faahisah (perbuatan yang keji) dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh oleh seseorang)” [Al-Israa : 32]

Para ulama menjelaskan bahwa firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : “Janganlah kamu mendekati zina”, maknanya lebih dalam dari perkataan : “Janganlah kamu berzina” yang artinya : Dan janganlah kamu mendekati sedikit pun juga dari pada zina [1]. Yakni : Janganlah kamu mendekati yang berhubungan dengan zina dan membawa kepada zina apalagi sampai berzina. [2]

Faahisah adalah = maksiat yang sangat buruk dan jelek
Wa saa’a sabiila = karena akan membawa orang yang melakukannya ke dalam neraka.

Tidak ada perselisihan di antara para ulama bahwa zina termasuk Al-Kabaa’ir (dosa-dosa besar) berdasarkan ayat di atas dan sabda Nabi yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Apabila seorang hamba berzina keluarlah iman [3] darinya. Lalu iman itu berada di atas kepalanya seperti naungan, maka apabila dia telah bertaubat, kembali lagi iman itu kepadanya” [Hadits shahih riwayat Abu Dawud no. 4690 dari jalan Abu Hurairah]

Berkata Ibnu Abbas. : “Dicabut cahaya (nur) keimanan di dalam zina” [Riwayat Bukhari di awal kitab Hudud, Fathul Bari 12:58-59]

Dan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Dari Abi Hurairah, ia berkata : Telah bersabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak akan berzina seorang yang berzina ketika dia berzina padahal dia seorang mukmin. Dan tidak akan meminum khamr ketika dia meminumnya padahal dia seorang mukmin. Dan tidak akan mencuri ketika dia mencuri padahal dia seorang mukmin. Dan tidak akan merampas barang yang manusia (orang banyak) melihat kepadanya dengan mata-mata mereka ketika dia merampas barang tersebut pada dia seorang mukmin” [Hadits shahih riwayat Bukhari no. 2475, 5578, 6772, 6810 dan Muslim 1/54-55]

Maksud dari hadits yang mulia ini ialah :
Pertama : Bahwa sifat seorang mukmin tidak berzina dan seterusnya.
Kedua : Apabila seorang mukmin itu berzina dan seterusnya maka hilanglah kesempurnaan iman dari dirinya”[4]

Di antara sifat “ibaadur Rahman” [5] ialah : ‘tidak berzina’. Maka apabila seorang itu melakukan zina, niscaya hilanglah sifat-sifat mulia dari dirinya bersama hilangnya kesempurnaan iman dan nur keimannya. [6]

Setelah kita mengetahui berdasarkan nur Al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa zina termasuk ke dalam Al-Kabaair (dosa-dosa besar) maka akan lebih besar lagi dosanya apabila kita melihat siapa yang melakukannya dan kepada siapa?

Kalau zina itu dilakukan oleh orang yang telah tua, maka dosanya akan lebih besar lagi berdasarkan sabda Nabi yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Ada tiga golongan (manusia) yang Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan tidak melihat kepada mereka, dan bagi mereka siksa yang sangat pedih, yaitu ; Orang tua yang berzina, raja yang pendusta (pembohong) dan orang miskin yang sombong” [Hadits shahih riwayat Muslim 1/72 dari jalan Abu Hurairah, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti diatas]

Demikian juga apabila dilakukan oleh orang yang telah nikah atau pernah merasakan nikah yang shahih baik sekarang ini sebagai suami atau istri atau duda atau janda, sama saja, dosanya sangat besar dan hukumannya sangat berat yang setimpal dengan perbuatan mereka, yaitu didera sebanyak seratus kali kemudian di rajam sampai mati atau cukup di rajam saja. Adapun bagi laki-laki yang masih bujang atau dan anak gadis hukumnya didera seratus kali kemudian diasingkan (dibuang) selama satu tahun. Dengan melihat kepada perbedaan hukuman dunia maka para ulama memutuskan berbeda juga besarnya dosa zina itu dari dosa besar kepada yang lebih besar dan sebesar-besar dosa besar. Mereka melihat siapa yang melakukannya dan kepada siapa dilakukannya.

Kemudian, kalau kita melihat kepada siapa dilakukannya, maka apabila seorang itu berzina dengan isteri tetangganya, masuklah dia kedalam sebesar-besar dosa besar (baca kembali haditsnya di fasal kedua dari jalan Ibnu Mas’ud). Dan lebih membinasakan lagi apabila zina itu dilakukan kepada mahramnya seperti kepada ibu kandung, ibu tiri, anak, saudara kandung, keponakan, bibinya dan lain-lain yang ada hubungan mahram, maka hukumannya adalah bunuh. [7]

Setelah kita mengetahui serba sedikit tentang zina [8], dan dosanya, hukumannya di dunia di dalam syari’at Allah dan adzabnya di akhirat yang akan membawa para penzina terpanggang di dalam neraka, sekarang tibalah bagi kami untuk mejelaskan pokok permasalahan di dalam fasal ini yaitu hamil di luar nikah dan masalah nasab anak. Dalam fasal ini ada beberapa kejadian yang masing-masing berbeda hukumnya, maka kami berkata:


[Disalin dari kitab Menanti Buah Hati Dan Hadiah Untuk Yang Dinanti, Penulis Abdul Hakim bin Amir Abdat, Penerbit Darul Qolam Jakarta, Cetakan I – Th 1423H/2002M]

__________
Foot Note
[1]. Tafsir Al-Qurthubiy, Juz 10 hal. 253
[2]. Tafsir Ruhul Ma’aaniy Juz 15 hal. 67-68 Al-Imam Al-Aluwsiy Al-Baghdadi. Tafsir Bahrul Muhith Juz 6 hal. 33.
[3]. Yang dimaksud “kesempurnaan iman dan cahayanya” baca syarah hadits ini di Faidlul Qadir Syarah Jami’ush Shagir 1/367 no. 660
[4]. Lihat syarah hadits ini di Fathul Bari no. 6772 Syarah Muslim Juz.2 hal.41-45 Imam An-Nawawi. Kitabul Iman oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah hal.239, 240
[5]. Tafsir Ibnu Katsir surat Al-Furqan ayat 68
[6]. Lihatlah tentang permasalahan zina, kerusakannya, hukumannya, dosanya, siksanya di kitab Jawaaabul Kaafiy, hal. 223 -239 dan 240 – 249 oleh Al-Imam Ibnul Qayyim
[7]. Tafsir Ibnu Katsir surat An-Nisaa ayat 22
[8]. Keluasan masalah zina dapat dibaca dan diteliti di kitab-kitab fiqih dan syarah hadits.

http://www.almanhaj.or.id/content/2251/slash/0

16 comments:

Anonymous said...

Assalamualaikum ustaz!
Saya ada soalan berkenaan Mak Nyah.Mereka tak berminat dengan pompuan,mereka minat dengan lelaki,tetapi mereka tidak juga melakukan zina dengan lelaki.Mereka cuma lembut dan berhayal sendiri untuk melepaskan nafsu syahwat dengan cara mereka tersendiri,tanpa melibatkan orang yang kedua. Mereeka telah mengambil keputusan muktamad,iaitu menjadi bujang terlajak.Tak ada ertinya jika mereka di paksa bernikah oleh kedua orangtua nya dengan pompuan yang tidak diingininya langsong walau secantik bidadari jua pon,semata mata menginginkan supaya mereka seolah olah lelaki tulin biasa.Jika pon mereka terpaksa kahwin tanpa kerelaan hati,sudah pasti isteri yang di nikahi nya di biarkan terbangai dan akhirnya mereka bercerai juga.Pada pendapat saya,Mak Nyah yang terlibat tak harus di persalahkan.Setahu saya,jika lelaki yang membiarkan isteri mereka terbangai hukum nya haram kerana lelaki biasa memang berkeinginan dengan pompuan,tetapi tidak bagi Si Mak Nyah tadi.

Admin said...

antara khunsa dengan mukhannath (pondan) sila baca penjelasan:

http://qawanitadanperkahwinan.blogspot.com/2009/07/pondan-khunsa-mukhannath-dari.html.

Anonymous said...

apakah hukum melancap bagi mengelak zina?

Admin said...

hukum onani,
sila cari ada banyak pos mengenai masalah onani.

http://qawanitadanperkahwinan.blogspot.com/2009/01/onani-pandangan-al-qaradhawi.html.

Anonymous said...

thanks admin.....

Anonymous said...

Apa kh hukum suami apabila mengetahui Isterinya berzina dgn lelaki lain Dan suami Nya didalam keadaan serba salah untuk menceraikan isteri kerana masih Ada prasaan sayang..? Dayus kh suami itu?

Matahari33 said...

Assalamualaikum..
berkenaan dengan zina..tak semestinya melakukan maksiat tapi mempunyai skop yang luas..tapi saya masih kurang jelas berkenaan zina hati..jika teringatkan seseorang lelaki yang bukan ajnabi adakah dianggap sebagai zina hati?hanya teringat saat pertama kali bertembung..dan kemudian,tidak pernah mengenalinya..

Anonymous said...

saya ingin bertanya tentang hukum nikah yang diaakad sebanyak dua kali.pertama ialah nikah di siam hanya kerana untuk menghalalkan perhubungan dan tiada sesiapa yang tahu.kemudian nikah lagi sekali dengan orang yang sama untuk menutup aib pada masyarakat kerana pada waktu tersebut semua keperluan sudah cukup seperti duit dan sebagainya.nak cakap dekat ibu bapa bahawa mereka telah dinikahkan takut kerana mereka menganggap anak mereka itu baik.soalannya..apakah hukum nikah yang diakad untuk kali kedua dimalaysia sekiranya pasangan tersebut tidak memberitahu bahawa mereka telah sah dinikahkan??

Anonymous said...

Assalamualaikum,
Saya ingin bertanya tentang beberapa persoalan, harap ustaz dapat membantu.
1. Jika sekiranya seorang penzina bujang telah melakukan zina banyak kali dan dengan orang yang lain-lain, adakah hukum hudud sebatan dikiranya sebagai satu hukuman atau banyak bergantung pada berapa kali dia telah berzina?
2. Penzina telah bertaubat nasuha dan telah beusaha untuk mengubah cara hidupnya tetapi hatinya tidak senang. Dia sanggup menjalankan hukuman sebat itu tetapi di Malaysia tidak dipraktikkan kerana hukuman itu sebagai penghapus dosa. Betul kah ustaz, selagi tidak menjalani hukuman di dunia, dosa kita tetap diazab di akhirat.
3. Bolehkah mana-mana pihak atau ahli-ahli agama menjalankan hukuman tersebut atau perlu ke negara islam yang lain?

Admin said...

W'salam

1. hukum sebat atas kesalahan zina bergantung kepada bukti serta saksi yang boleh disabitkan oleh seseorang penguasa. Terpulang kepada budibiacara hakim sekiranya tidak boleh disabitkan atas kesalahan zina.

Bukan mudah untuk menghukum zina, memerlukan 4 orang saksi yang layak dan saksi2 melihat dengan jelas "seperti masuknya batang celak kedalam penutupnya"...

2. Pengakuan tidak lagi memerlukan saksi, penguasa boleh menjatuhkan hukuman mengikut hukum Islam. Di zaman Rasulullah saw seorang wanita yang mengakut berzina pun sampai 4 kali baginda arahkan kembali dulu menyusukan bayinya. Selepas 4 kali tangguh barulah dihukum rejam sampai mati. (rejam khusus untuk mereka yg telah berkahwin sahaja).

3. Dia boleh memilih untuk tidak membuat pengakuan dengan syarat bertaubat dengan sebenar-benar taubat, perbanyakkan amalan sunat tambahan, banyak memberi sedekah kepada fakir miskin... Allah akan mengampunkan dosa zina dia. WA

Anonymous said...

Assalamualaikum Ustaz,

Terimakasih diatas penjelasan segala penjelasan ustaz diatas. Saya ada sedikit kemusykilan, sekiranya seorang penzina wanita yang telah berzina dengan suami orang dan telah pun bertaubat, perlukan dia bertemu dengan isteri lelaki tersebut untuk meminta maaf. Saya ada terbaca yang kita perlu meminta maaf kepada orang-orang yang kita telah zalimi atau mengambil hak mereka. Diharap ustaz dapat jelas kan sedikit.

Terimakasih.
Wassalam.

Anonymous said...

Assalamualaikum Ustaz..

saya ada kemusykilan...
1. adakah seorang penzina lelaki itu harus menikahi perempuan yang berzina dengannya?
2. Apakah hukum sekiranya dia enggan menikahi wanita tersebut dan kesannya terhadap wanita itu?

Terima Kasih..
Wassalam

Anonymous said...

assalamualaikum ustaz...
saya ada kemusykilan...
1. adakah sah pernikahan bagi pengantin yang berzina jika sebelum hari pernikahan, mereka telah terlanjur dan masih berjunub ketika akad nikah?
2. jika pasangan pengantin itu telah menyesali perbuatan mereka dan bertaubat, adakah Allah akan mengampuni segala dosa mereka yang telah lalu?
3. jika salah seorang pengantin itu mati ketika berusaha bersungguh-sungguh untuk kembali bertaubat pada Allah, adakah akan ada azab seksa baginya di akhirat kelak?

harap ustaz dpt menjawab persoalan ini secepat mungkin.... terima kasih.....

Admin said...

w'salam

1. akad nikah selalunya dibuat di masjid, wajib mandi dan tidak dalam keadaan junub, apa lagi jika telah masuk waktu solat.

2. Allah maha pengampun lagi maha mengasihani,taubat anda diterima walau sebesar mana pun dosa anda asal jangan syirik, dosa2 akan diampunkan oleh Allah.

3. Allah akan mengampunkan semua dosa2 dia.

Anonymous said...

bagaimana dengan hukum nikahnya? adakah sah hukum nikah nya? sekarang dia sudah beranak pinak....

Anonymous said...

salam ustaz...
1. adakah suci diri dari hadas junub merupakan salah satu syarat wajib sah nikah?

2. adakah perkahwinan mereka akan terbatal?

3. adakah perkahwinan mereka dianggap zina?

tolong saya ustaz...harap ustaz dapat jelaskan dengan lebih terperinci...

Post a Comment